BAB II
KAJIAN TEORI
KAJIAN TEORI
A.
Devinisi DAN
KONSEP Pusat laba
Pusat laba (profit center) merupakan pusat
pertanggungjawaban yang memiliki kewenangan untuk mengendalikan biaya-biaya dan
menghasilkan pendapatan tetapi tidak memiliki kewenangan untuk mengambil keputusan
tentang investasi. Pusat laba hanya bertanggungjawab terhadap tingkat laba yang
harus dicapai. Misalnya: pimpinan anak perusahaan atau manajer divisi yang
tidak diberi hak untuk mengambil keputusan tentang investasi.
Menurut Robert
N. Anthony dan Vijay Govindarajan
dalam bukunya yang berjudul “Sistem
Pengendalian Manajemen” yang diterjemahkan oleh F.X. Kurniawan Tjakrawala,
menjelaskan bahwa: “Pusat laba adalah suatu unit organisasi dimana didalamnya pendapatan
dan pengeluarannya diukur berdasarkan kondisi moneter.” (2002;181)
Laba
merupakan ukuran kinerja yang berguna karena laba memungkinkan manajemen senior
untuk dapat menggunakan satu indikator yg komprehensif, dibandingkan jika harus
menggunakan beberapa indikator.
Banyak
keputusan manajemen melibatkan usulan untuk meningkatkan beban dengan harapan
bahwa hal itu akan menghasilkan peningkatan yang lebih besar dalam peningkatan
penjualan keputusan semacam ini disebut sebagai pertimbangan biaya/pendapatan
(expense/revenue trade-off). Tambahan beban iklan adalah salah satu contohnya.
Untuk dapat mendelegasikan keputusan trade-off semacam ini dengan aman ke
tingkat manajer yang lebih rendah, maka ada dua kondisi yang harus dipenuhi :
1.
Manajer harus memiliki akses ke
informasi relefan yang dibutuhkan dalam membuat
keputusan serupa.
2.
Harus ada semacam cara untuk
mengukur efektifitasnya suatu trade-off yang dibuat oleh manajer.
Langkah
utama dalam membuat pusat laba adalah menentukkan titik terendah dalam
organisasi dimana kedua kondisi diatas terpenuhi.
Seluruh
pusat tanggung jawab diibaratkan sebagai suatu kesatuan rangkaian yang mulai
dari pusat tanggung jawab yang sangat jelas. Manajemen harus memutuskan apakah
keuntungan dari delegasi tanggung jawab laba akan dapat menutupi kerugiannya,
sebagaimana dibahas berikut ini. Seperti halnya pilihan-pilihan desain system
pengendaian maajemen, dalam ini tidak ada batasan-batasan yang jelas.
Kinerja
manajer pusat laba dapat dievaluasi berdasarkan lima ukuran
profitabilitas sebagai berikut:
- Margin kontribusi.
Margin kontribusi menunjukkan
rentang (spread) antara pendapatan dengan beban variabel. Alasan utama mengapa
ini digunakan sebagai alat pengukur kinerja manajer pusat laba adalah karena
beban tetap berada di luar kendali manajer tersebut, sehingga para manajer
harus memusatkan perhatian untuk memaksimalkan margin kontribusi.
- Laba langsung.
Laba langsung (direct profit)
mencerminkan kontribusi pusat laba terhadap overhead umum dan laba perusahaan.
Ukuran ini menggabungkan pengeluaran seluruh pusat laba, baik yang dikeluarkan
oleh atau dapat ditelusuri langsung ke pusat laba tersebut tanpa mempedulikan
apakah pos-pos ini ada dalam kendali manajer pusat laba atau tidak. Meskipun demikian,
pengeluaran yang terjadi di kantor pusat tidak termasuk dalam penghitungan ini.
- Laba yang dapat dikendalikan.
Pengeluaran-pengeluaran kantor pusat
dapat dikelompokkan menjadi dua kategori, dapat dikendalikan dan tidak dapat
dikendalikan. Yang termasuk dalam kategori pertama adalah
pengeluaran-pengeluaran yang dapat dikendalikan, pada tingkat tertentu, oleh
manajer unit bisnis, misalnya layanan teknologi informasi. Jika biaya-biaya ini
termasuk dalam sistem pengukuran, maka laba yang dihasilkan setelah dikurangi
dengan seluruh biaya yang dipengaruhi oleh manajer pusat laba tersebut.
- Laba sebelum pajak.
Dalam ukuran ini, seluruh overhead
korporat dialokasikan ke pusat laba berdasarkan jumlah relatif dari beban yang
dikeluarkan oleh pusat laba. Jika pusat laba dibebankan dengan sebagian
overhead korporat, maka hal ini harus dihitung berdasarkan biaya yang telah
dianggarkan, dan bukan biaya aktual, di mana kolom ”anggaran” dan ”aktual”
dalam laporan kinerja pusat laba menunjukkan jumlah yang sama untuk pos khusus
ini. Hal ini akan memberikan kepastian bahwa para manajer pusat laba tidak akan
mengeluh karena laporan kinerja mereka tidak akan menunjukkan varians dalam
alokasi overhead.
- Laba bersih.
Di sini, perusahaan mengukur kinerja
pusat laba domestik berdasarkan laba bersih (net income), yaitu jumlah laba
bersih setelah pajak.
B.
MANFAAT
DAN KESULITAN PUSAT LABA
1. Manfaat
Pusat Laba
Diantaranya
yaitu :
1)
Kualitas keputusan manajer lebih
meningkat. Hal tersebut dikarenakan keputusan tersebut dibuat oleh para manajer
yang paling dekat dengan titik keputusan.
2)
Kecepatan pengambilan keputusan
operasional dapat meningkat karena tidak perlu mendapat persetujuan terlebih
dahulu dari kantor pusat.
3)
Manajer kantor pusat dapat lebih
berkonsentrasi pada hal-hal yang lebih luas, karena manajemen kantor pusat
bebas dari pengambilan keputusan harian.
4)
Manajer lebih bebas menunjukkan
imajinasi dan inisiatifnya, karena hanya sedikit batasan dari korporat.
5)
Memberikan tempat pelatihan sempurna
bagi kemampuan manajerial secara umum. Para manajer mendapatkan pengalaman
dalam mengelola seluruh area fungsional, dan manajemen yang lebih tinggi
mendapatkan kesempatan untuk mengevaluasi potensi pekerjaan yang tingkatnya
lebih tinggi.
6)
Kesadaran terhadap laba semakin
meningkat, karena para manajer yang bertnggung jawab atas laba akan selalu
mencari cara untuk meningkatkan labanya.
7)
Memberikan informasi siap pakai
kepada manajemen puncak tentang profitabilitas komponen-komponen individual
perusahaan.
8)
Output yg siap pakai membuat pusat
laba sangat responsif terhadap tekanan utk meningkatkan kinerja kompetitif.
2.
Kesulitan yang Dihadapi Pusat Laba
Selain manfaat
yang diperoleh, pusat-pusat laba dapat memberikan beberapa kesulitan:
1) Pengambilan
keputusan yang terdesentralisasi akan memaksa manajemen puncak untuk
mengandalkan laporan pengendalian manajemen dan bukan wawasan pribadinya atas
suatu operasi, sehingga mengakibatkan hilangnya pengendalian.
2) Jika manajemen
kantor pusat lebih mampu dan memiliki informasi yang lebih baik daripada
manajer pusat laba pada umumnya, maka kualitas keputusan yang diambil pada
tingkat unit akan berkurang.
3) Perselisihan
dapat meningkat karena adanya argumen-argumen mengenai harga transfer yang
sesuai, pengalokasian biaya umum yang tepat, dan kredit untuk pendapatan yang
sebelumnya dihasilkan secara bersama-sama oleh dua atau lebih unit bisnis.
4) Unit-unit
organisasi yang pernah bekerja sama sebagai unit fungsional akan saling
berkompetisi satu sama lain. Peningkatan laba untuk satu manajer dapat berarti pengurangan
laba bagi manajer yang lain. Dalam situasi yang seperti ini, seorang manajer
dapat saja gagal dalam memberikan potensi penjualan ke unit lain yang lebih
tepat untuk merealisasikannya; menimbun pegawai atau peralatan yang akan lebih
baik, dari sudut pandang seluruh perusahaan, jika digunakan ke unit lain; atau
membuat keputusan produksi yang memiliki konsekuensi biaya yang tidak
diinginkan bagi unit lain.
5) Divisionalisasi
dapat mengakibatkan biaya tambahan karena adanya tambahan manajemen, pegawai,
dan pembukuan yang dibutuhkan, dan mungkin mengakibatkan duplikasi tugas di
setiap pusat laba.
6) Para manajer
yang kompeten mungkin saja tidak ada dalam organisasi fungsional karena tidak
adanya kesempatan yang cukup untuk mengembangkan kompetensi manajemen umum.
7) Mungkin ada
telalu banyak tekanan atas profitabilitas jangka pendek dengan mengorbankan
profitabilitas jangka panjang.
8) Tidak adanya
sistem yang memuaskan untuk memastikan bahwa optimalisasi laba dari
masing-masing pusat laba akan mengoptimalkan laba perusahaan secara
keseluruhan.
C.
UNIT
BISNIS SEBAGAI PUSAT LABA
Hampir semua
unit bisnis diciptakan sebagai pusat laba karena manajer yang bertanggung jawab
atas unit tersebut memiliki kendali atas pengembangan produk, proses produksi,
dan pemasaran. Para manajer tersebut berperan untuk mempengaruhi pendapatan dan
beban sedemikian rupa sehingga dapat dianggap bertanggung jawab atas “laba
bersih”. Meskipun demikian, seperti yang akan ditunjukan pada bagian
berikutnya. Wewenang seorang manajer dapat dibatasi dengan berbagai cara , yang
sebaiknya dicerminkan dalam desain dan operasi pusat laba.
Batasan atas
Wewenang Unit Bisnis
Dari konsep
pusat laba, manajer unit bisnis akan memiliki otonomi seperti presiden dari
suatu perusahan independen. Meskipun demikian, dalam praktek sehari-hari,
otonomi semacam ini tidak pernah ada. Wewenang yang diberikan oleh dewan
direksi kepada CEO didelegasikan ke manajer unit bisnis, maka berarti
bahwa manajemen senior melepaskan tanggung jawab sendiri. Akibatnya, struktur
unit bisnis mencerminkan trade-off antara otonomi unit bisnis dan
batasan perusahaan.
Hal utama
yang harus dipertimbangkan adalah adanya batasan atas wewenang manajer unit
bisnis. Batasan dapat muncul dari unit bisnis lain maupun dari manajemen
korporat.
1. Batasan dari unit bisnis lain
Salah satu masalah utama teradi
ketika suatu unit bisnis harus berurusan dengan unit bisnis lain. Batasan dari
unit bisnis lain akan semakin tidak terlihat apabila keputusan produk,
keputusan pemasaran dan keputusan perolehan dilakukan oleh satu unit bisnis,
disamping itu terdapat sinergi antar unit bisnis. Jia seorang manajer unit
bisnis mengendalikan ketiga aktivitas tersebut, biasanya tidak akan ada
kesulitan dalam melaksanakan tanggung jawab laba dan mengukur kinerja. Pada
umumnya semakin terintegrasi suatu perusahaan maka akan semakin sulit melakukan
tanggung jawab pusat laba tunggal untuk ketiga aktivitas tersebut dalam lini
produk yang ada.
2.
Batasan dari manajmen korporat
Terdapat batasan-batasan yang timbul
dari: pertimbangan-pertimbangan strategis, karena adanya keseragaman dan dari
nilai ekonomis sentralisasi.
Hampir semua perusahaan mempertahankan
beberapa keputusan terutama keputusan financial, pada tingkat korporat,
setidaknya untuk aktivitas domestic. Akibatnya, salah satu batasan utama atas
unit bisnis berasal dari pengendalian korporat terhadap investasi baru. Unit
bisnis yang ada harus bersaing satu sama lain untuk mendapatkan bagian dari
dana yang tersedia.
D.
PUSAT
LABA LAIN
Perusahaan
multibisnis biasanya terbagi ke dalam unit-unit bisnis dimana setiap unit
diperlakukan sebagai unit penghasil laba yang independen. Tetapi sub unit yang ada dalam unit bisnis tersebut dapat saja
terorganisisr secara fungsional misal aktivitas operasi pemasaran, manufaktur,
dan jasa yang dijadikan sebagai pusat laba. Tidak ada prinsip-prinsip tertentu
yang menyatakan bahwa unit tertentu yang merupakan pusat laba sementara dan
yang lainnya bukan.
1. Unit-unit
fungsional.
Subunit yang
ada dalam unit bisnis dapat saja terorganisasi secara fungsional. Terkadang
lebih mudah untuk membuat satu atau lebih unit fungsional, misalnya aktivitas
operasi pemasaran, manufaktur, dan jasa. Tidak ada prinsip-prisip tertentu yang
menyatakan bahwa jenis unit tertentu yang merupakan pusat laba sementara yang
lainnya bukan. Keputusan pihak manajemen untuk pusat labanya haruslah
berdasarkan besar pengaruhya (bahkan jika bukan pengendalian total) yang
dilaksanaka oleh manajer unit terhadap aktivitas yang mempengaruhi laba bersih.
2. Pemasaran.
Pemasaran dapat
dijadikan sebagai pusat laba dengan membebankan biaya dari produk yang terjual.
Harga transfer ini memberikan informasi yang relevan bagi manajer pemasaran
dalam membuat trade-off pendapatan/pengeluaran yang optimal, dan praktik
standar untuk mengukur manajer pusat laba berdasarkan probabilitasnya akan
memberikan evaluasi terhadap trade-off yang dibuat.
3.
Manufaktur.
Aktivitas
manufaktur biasanya merupakan pusat beban, di mana manajemen dinilai
berdasarkan kinerja versus biaya standar dan anggaran overhead. Tetapi, ukuran
ini dapat menimbulkan masalah karena ukuran tersebut tidak mengindikasikan
sejauh mana kinerja manajemen atas seluruh aspek pekerjaannya. Oleh karena itu,
di mana kinerja proses manufaktur diukur terhadap biaya standar, dianjurkan
untuk membuat evaluasi yang terpisah atas aktivitas-aktivitas seperti
pengendalian mutu, penjadwalan produk, dan keputusan buat atau beli. Salah satu
cara untuk mengukur aktivitas organisasi manufaktur secara keseluruhan adalah
dengan menjadikannya pusat laba dan memberikan nilai berdasarkankan untuk harga
jual produk dikurangi dengan estimasi biaya pemasaran.
4.
Unit pendukung dan pelayanan.
Unit-unit
pemeliharaan, teknologi informasi, tranportasi, teknik, konsultan, layananan
konsumen, dan aktivitas pendukung sejenis dapat dioperasikan kantor pusat dan
divisi pelayanan perusahaan, atau dapat dipenuhi oleh unit bisnis itu sendiri.
Unit bisnis tersebut membebankan biaya pelayanan yang diberikan, dengan tujuan
finansial untuk menghasilkan bisnis yang mencukupi sehingga pendapatan setara
dengan pengeluaran. Perusahaan yang melakukan pembebanan “berdasarkan
penggunaan” mungkin memperlakukan unit tersebut sebagai pusat laba.
5.
Organisasi lainnya.
Suatu
perusahaan dengan operasi cabang yang bertanggung jawab atas pemasaran produk
perusahaan di wilayah geografis tertentu sering kali menjadi pusat laba secara
alamiah. Meskipun para manajer cabang tidak memiliki tanggung jawab manufaktur
atau pembelian, profitabilitasnya kadangkala merupakan satu ukuran unit kinerja
yang paling baik. Lebih lanjut lagi, pengukuran laba merupakan satu alat
motivasi yang sempurna.
E.
CONTOH
KASUS
Toyota
Motor Corporation
(TMC) (dalam bahasa Jepang: トヨタ自動車株式会社), adalah sebuah perusahaan mobil di Jepang, yang berpusat
di Toyota, Aichi, memberikan pelayanan finansial, dan juga berpartisipasi dalam
bidang bisnis lainnya. Toyota Motor Corporation didirikan pada September 1933 sebagai divisi mobil Pabrik Tenun
Otomatis Toyota. Divisi mobil perusahaan tersebut kemudian dipisahkan pada 27 Agustus 1937 untuk menciptakan Toyota Motor
Corporation seperti saat ini. TMC merupakan anggota dari Grup
Toyota
dan memproduksi mobil dengan merek Toyota
Lexus dan Scion.
Lexus (bahasa Jepang:レクサス) adalah sebuah merek yang digunakan
oleh Toyota Motor Corporation di Amerika
Utara,
Timur Tengah, Eropa, Australia, Asia (dipasarkan di Jepang pada 2005) dan Selandia Baru untuk divisi mobil mewahnya. Lexus pertama kali
diperkenalkan pada 1989 di Amerika Serikat. Pada tahun 2006, Lexus dijual di 68
negara di seluruh dunia. Kantor Pusat Lexus berada di Aichi, Jepang.
Project Lexus dimulai pada tahun
1983, sebuah tim besar terdiri dari engineer terbaik dari Toyota Motor
Corporation, berusaha untuk membuat sedan yang bisa mengalahkan sedan terbaik
dunia. Hasilnya adalah Lexus LS 400 yang diperkenalkan pada North America
International Motorshow 1989.
Merek ini terutama bersaing dengan
merek mewah tradisional Jerman seperti Audi, BMW, Jaguar, dan Mercedes-Benz. Lexus sudah balik ke Jepang pada tahun 2005. Lalu menyusul
secara global pada tahun tahun berikutnya, termasuk Indonesia pada tahun 2007.
Lexus terinspirasi dari suksesnya Toyota Supra dan Toyota Cressida. Keduanya
merupakan mobil berpenggerak roda belakang dengan mesin M berperforma tinggi.
Sedangkan Scion adalah merk yang diproduksi oleh Toyota Motor Corporation untuk pasar Amerika Utara. Berdiri
mulai Maret 2002, tujuan dari berdirinya Scion adalah untuk menarik perhatian
konsumen golongan Y (Millenial Generation). Model pertama Scion adalah Scion xA
hatchback dan Scion xB wagon, diperkenalkan di California tahun 2003. Kemudian
diluncurkan juga Scion tC, sebuah mobil sport-coupe tahun 2004 di AS.
Dari sejarah diatas kita dapat
menyimpulkan bahwa Toyota membagi basis unit produksinya dari kelas biasa
sampai kelas mobil mewah yang dimana system manajemennya dibagi per unit bisnis
sehingga bisa disebut pusat laba karena para manager unit bisnis bertanggung
jawab terhadap unit bisnisnya pada regional masing-masing dimana kita dapat
keuntungan seperti murah dalam hal produksi, murah dalam mencari bahan baku
produksi dan mempermudah dalam hal pemasaran. Akan tetapi dibalik semua
keuntungan itu masih ada kekurangannya yaitu tidak semua perangkat mobil
diproduksi di setiap unit produksi sehingga masih harus mendatangkan dari
Negara lain seperti halnya perusahaan Toyota yang berbasis di Indonesia dimana
masih belum bisa membuat mesin Toyota di Negara Indonesia sehingga masih harus
import dari jepang atau Thailand.
BAB III
KESIMPULAN
Pusat laba adalah pusat
pertanggungjawaban yang prestasi manajernya diukur berdasarkan laba (selisih
antara pendapatan dan beban) yang diperoleh. Pusat laba dapat dibentuk dengan
struktur divisionalisasi, yang memungkinkan unit utama bertanggungjawab
terhadap produksi dan pemasaran sekaligus. Pusat laba dibentuk dengan keputusan
expense and revenue trade-off. Keputusan ini ditentukan dengan 2 kondisi, yaitu
Manajer memiliki akses ke informasi yang relevan dalam membuat keputusan dan
terdapat ukuran efektivitas atas trade-off yang dibuat manajer.
Seluruh
pusat tanggung jawab diibaratkan sebagai suatu kesatuan rangkaian yang mulai
dari pusat tanggung jawab yang sangat jelas. Manajemen harus memutuskan apakah
keuntungan dari delegasi tanggung jawab laba akan dapat menutupi kerugiannya,
sebagaimana dibahas berikut ini. Seperti halnya pilihan-pilihan desain system
pengendaian maajemen, dalam ini tidak ada batasan-batasan yang jelas.
Perusahaan
multibisnis biasanya terbagi ke dalam unit-unit bisnis dimana setiap unit
diperlakukan sebagai unit penghasil laba yang independen. Tetapi subunit yang
ada dalam unit bisnis tersebut dapat saja terorganisisr secara fungsional missal
aktivitas operasi pemasaran, manufaktur, dan jasa yang dijadikan sebagai pusat
laba.
DAFTAR PUSTAKA
1. http://s2.wahyudiharto.com/2009/04/penggunaan-informasi-akuntansi-penuh.html
2. Kaplan, Robert,
dan David Norton. Balanced Scorecard. Boston: Harvard Business School Press,
1996.
3. Robert
N.Anthony Vijay Govindarajan.Management Control System, penerbit Salemba
Empat,2005.
4.
Viyanti
& Setin. 2010. Akutansi Pertanggungjawaban Sebagai Alat Pengendalian
Manajemen Terhadap Penilaian Prestasi Kerja. Bandung Maranatha
Kerja Sampingan PT ODAP Gaji Hingga 15 Juta/bln
BalasHapus(Online Based Data Assignment Program/ODAP)
1. Karyawan/Karyawati tetap, gaji pokok 2 jt/bln.
2. Segala jurusan SMU, SMK, D1, S1 dll.
3. Tugas pekerjaan dapat dikerjakan melalui HP, warnet, Rumah, Sekolah (dengan system online) tanpa mengganggu rutinitas anda sehari-hari.
4. Tugas pekerjaan: Mengentry data (memasukkan data) secara online melalui web perusahaan.
5. Gaji : Per entry data Anda dibayar 10rb rupiah, Bila sehari anda sanggup mengentry 50 data maka GAJI Anda 10rbX50Data=500rb rupiah/hari, Bila dalam 1 bln maka 500rbX30hari=15Juta/bln.
6. Kesempatan terbatas untuk 200 orang.
7. Pendaftaran: Kunjungi "WEBSITE" kami dibawah iklan ini, daftarkan nama lengkap dan email anda untuk verifikasi keanggotaan & Sukses Bersama Kami.
http://newkerjaonline2014.blogspot.com/